oplus_1024

*SELECTION NEWS.NET*
Jakarta – Kecerdasan buatan atau _artificial intelligence_ (AI) tidak lagi sekadar teknologi berkembang, melainkan telah menjadi kebutuhan strategis bagi bisnis yang mengubah cara perusahaan bekerja, berinvestasi, dan memanfaatkan aset properti. Hal ini menjadi sorotan utama dalam Media Briefing CBRE Indonesia.

Transformasi tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai dampak AI terhadap masa depan kantor, lapangan pekerjaan, dan permintaan properti komersial di Jakarta.

Managing Director CBRE Indonesia, Angela Wibawa, menyampaikan bahwa di tengah ketidakpastian global, kondisi ekonomi dalam negeri masih menjadi penopang utama pasar properti.

“Indonesia terus menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat, didukung oleh pertumbuhan yang stabil, inflasi yang terkendali, aktivitas investasi yang berkelanjutan, dan pertumbuhan populasi yang menopang pasar domestik. Konsumen masih tetap aktif, namun semakin selektif dengan berfokus pada kualitas, efisiensi, dan _long-term value creation_,” ujar Angela dalam acara tersebut, Selasa (28/10/2026).

*Pasar Perkantoran CBD: Flight-to-Quality Menguat*

Di sektor perkantoran, momentum positif terus berlanjut. Senior Director dan Co-Head of Office Services CBRE Indonesia, Judy Sinurat, melaporkan peningkatan aktivitas _leasing_ di berbagai kawasan.

Di kawasan CBD Jakarta, _net take-up_ tercatat mencapai sekitar 22.900 m² pada kuartal ketiga 2026. Tingkat hunian pun meningkat menjadi 76,6%, level tertinggi sejak periode pemulihan pasca-pandemi.

“Permintaan tetap terkonsentrasi pada gedung perkantoran Premium Grade dan Grade A, seiring strategi _flight-to-quality_ yang terus dilakukan _tenants_. Gedung yang menawarkan spesifikasi modern, fitur _sustainability_, fasilitas lengkap, serta lingkungan kerja yang berkualitas terus mencatat kinerja lebih baik dibandingkan pasar secara keseluruhan,” kata Judy.

Ia menambahkan, kinerja sewa pada gedung Premium dan Grade A juga meningkat, mencerminkan preferensi yang semakin kuat terhadap aset berkualitas tinggi. Di sisi lain, pemilik gedung semakin fokus pada inisiatif peningkatan aset, termasuk program renovasi, perbaikan lingkungan kerja, dan peningkatan fasilitas untuk menjaga daya saing serta meningkatkan retensi _tenant_.

*Non-CBD Tetap Diminati Berkat Akses Transportasi*

Sementara itu, pasar perkantoran Non-CBD Jakarta juga mencatat momentum positif dengan _net take-up_ sekitar 21.600 m², sementara tingkat hunian tetap stabil di 73,2%.

Menurut Senior Director dan Co-Head of Office Services CBRE Indonesia, Albert Dwiyanto, permintaan ruang perkantoran di luar CBD terutama berasal dari instansi pemerintah serta perusahaan yang bergerak di sektor barang konsumsi (FMCG), teknologi, kimia, dan energi.

Kemudahan akses dan konektivitas dengan jaringan transportasi utama tetap menjadi pertimbangan penting bagi perusahaan dalam memilih lokasi kantor.

“Perusahaan kini semakin mempertimbangkan keseimbangan antara kemudahan akses, efisiensi biaya, dan kualitas gedung dalam memilih lokasi kantor. Selain biaya sewa, _workplace experience_, efisiensi dan kualitas menjadi faktor penentu,” pungkasnya.

JOHENDRA EFENDI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *